Berbagi Itu Penting
Berbagi
Itu Penting
Suatu
pagi yang cerah ada sekelompok anak remaja yang akan mengunjungi suatu panti
asuhan yang terletak tidak jauh dari sekolah mereka untuk melakukan bakti
sosial dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Mereka sudah merencanakan
kegiatan tersebut dari jauh-jauh hari. Sekelompok anak remaja tersebut terdiri
dari 4 anak perempuan dan 4 anak laki-laki yaitu Rani, Lili, Sari, Fina, Sani,
Tomi, Satria, dan Alfi.
Hari itu ialah hari Minggu. Tepat
pukul 08.00 pagi Rani, Lili, Sari, Fina, Sani, Tomi, Satria, dan Alfi sudah
berkumpul di depan sekolah mereka dan membawa barang-barang bekas layak pakai
untuk disumbangkan. Rani membawa baju-baju muslimnya yang sudah tidak cukup untuk
dipakainya; Lili membawa tas-tas sekolahnya yang sudah tidak terpakai; Sari
membawa buku-buku cerita; Fina membawa baju bekas ibunya yang sudah tidak
terpakai tetapi masih layak untuk dipakai; Sani, Tomi, dan Satria membawa
alat-alat ibadah seperti sarung, peci, sajadah, dan mukena ibu mereka yang
sudah tidak terpakai, tetapi Alfi hanya membawa 1 sarung bekas yang sebenarnya
tidak layak pakai. “Fi, kamu membawa apa?”
tanya
Sari. “Aku membawa 1 sarung, karena dirumahku tidak ada barang bekas satupun. Ya
hanya sarung bekas ini yang aku punya,”
jawabnya. Rani, Lili, Sari, Fina, Sani, Tomi,dan Satria saling memandang satu
sama lain. Mungkin mereka bingung atas jawaban Alfi tadi, karena setahu mereka
Alfi adalah anak dari salah satu seorang direktur bank ternama di Jakarta. “Aku
lumayan ragu atas jawaban Alfi tadi,”
bisik Sani kepada Tomi. “Iya aku juga,”
jawab Tomi dengan suara lirih. Tiba-tiba Rani memotong pembicaraan antara Sani
dan Tomi. “Memang kamu tidak mempunyai baju bekas saat kamu masih SD?” tanya
Rani. Alfi hanya terdiam dan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari
mulutnya. Tiba-tiba mukanya menjadi pucat dan bajunya dibasahi oleh
keringatnya. Saat dia akan menjawab, Satria memotong terlebih dahulu. “Sudah
jawab saja dengan jujur, mengapa kamu hanya membawa sarung bekas tersebut yang
menurut kita sarung tersebut tidak layak pakai. Padahal kamu adalah salah satu
anak direktur bank ternama di Jakarta,”
paksa Satria. Walaupun Satria sudah memaksa Alfi untuk menjawabnya, tetapi dia
masih tetap diam.
15 menit pun berlalu, mereka ber-8
hanya berdiri tanpa ada satu anak pun yang berkata. Mereka menunggu jawaban
dari Alfi yang dari tadi hanya diam saja dan tidak mau menjawab. Daripada hanya
diam, Lili mempunyai ide agar Alfi mau menjawab. “Kita tidak akan marah
kepadamu Fi, sudah jawab jujur saja daripada kita berdiri disini menunggu
jawaban kamu sampai berjam-jam dan tidak ada hasilnya. Nanti kita tidak jadi ke
panti asuhan itu,”
bujuk Lili dengan nada suara yang lemah lembut. Akhirnya Alfi mau menjawabnya.
Dia menjelaskan mengapa ini semua bisa terjadi. “Teman-teman, sebenarnya aku
tidak mau menyumbangkan barang-barangku untuk panti asuhan karena menurutku
sayang jika barang-barangku yang masih bagus-bagus dan mahal-mahal itu
disumbangkan. Aku membeli barang-barang itu di luar negeri, jadi kalo aku
sumbangkan nanti barang-barangku akan habis,” jelasnya. Rani, Lili, Sari, Fina,
Sani, Tomi,dan Satria hanya bisa menggelengkan kepala mereka setelah mendengar
penjelasan Alfi. “Jika kamu menyumbangkan sebagian dari barang-barangmu, tidak
mungkin barang-barangmu itu akan habis. Allah pasti akan membalas kebaikan
setiap umatnya, jadi jika kamu menyumbangkan sebagian dari barang-barangmu
Allah akan membalas kebaikanmu. Sekarang banyak orang diluar sana yang sedang
membutuhkan kebaikan kita orang-orang yang taraf hidupnya terpenuhi. Bayangkan
jika kamu yang berada diposisi mereka, pasti kamu membutuhkan bantuan dari
orang lain. Iya kan? Jadi kita sesama umat manusia harus saling berbagi satu
sama lain, karena kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan,” kata Fina dengan penuh
kesungguhan. “Terima kasih teman-teman. Aku bangga mempunyai teman seperti
kalian semua dan hari ini aku mendapatkan pelajaran penting,” jawab Alfi dengan mata yang
berkaca-kaca. Mereka pun berpelukan satu sama lain. Akhirnya mereka melanjutkan
rencana awal mereka untuk mengunjungi panti asuhan.